Minggu, 06 November 2011 - 19:44:30 WIB
Diposting oleh : Administrator | Kategori: Internasional - Dibaca : 76 kali
Beberapa bulan ini, dunia kembali dihangatkan dengan adanya gejolak di Timur Tengah. Blessing in disguise. Gelombang revolusi beranjak dari Tunisia menyebar ke Mesir, Libya, Yaman, Bahrain, Oman, Suriah, Yordania, hingga Arab Saudi. Massa keluar dalam jumlah ribuan bahkan jutaan di Tunisia, mesir, Yaman dan Libya menuntut perubahan rezim yang telah berkuasa selama beberapa dekade. 'Tsunami' perubahan yang melanda beberapa negara di Timur Tengah sesaat telah membangkitkan kembali optimisme akan adanya perubahan yang lebih baik. Ada apa dengan Timur Tengah? Pemicu gejolak konflik yang terjadi saat ini ada empat persoalan utama, yaitu kemiskinan, pengangguran, kenaikan harga bahan pokok, serta praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Jika kita melihat negara-negara yang tengah terjadi konflik itu mempunyai permasalahan dalam masyarakatnya yang masih miskin dan sulit untuk memenuhi kebutuhan pokok. Cukup ironis jika kita melihat kemiskinan masyarakat negara-negara yang tengah mempunyai konflik, karena umumnya negara-negara tersebut kaya akan sumber daya alam, terutama kandungan minyak bumi, sebagaimana data dari US Energy Information Administration. Bahkan dalam data tahun 2009, negara-negara Timur Tengah yang tengah terjadi konflik tersebut mempunyai andil 21 persen pasokan total minyak mentah di dunia. Meski begitu angka kemiskinan masih tetap tinggi. Di sisi lain, para penguasa mereka bergelimang harta. Banyak pemimpin negara kawasan Timur Tengah yang berkuasa hingga beberapa dekade dan berhasil menumpuk kekayaan berlimpah, gaya hidup berfoya-foya, gemar mengoleksi mobil dan barang mewah lainnya, bahkan berlibur ke tempat-tempat hiburan di Eropa dan AS. Wikileaks pernah membocorkan pesta rahasia dari salah seorang pangeran Saudi dari salah satu keluarga di sana, di mana barang-barang haram dan pelacur beredar di tengah pesta. Potret penguasa seperti ini jelas memicu kemarahan rakyat. Setelah sekian lama mereka mampu membungkam geliat protes, namun akumulasi kemarahan massa akhirnya tak mampu mereka redam lagi. Revolusi Mesir Salah satu negara yang telah terjadi konflik internalnya hingga revolusi negerinya adalah Mesir. Bangsa Mesir menyadari bahwa rezim Hosni Mubarok adalah kekuasaan yang otoriter. Demonstrasi massa yang memprotes kepemimpinan Mubarak di Tahrir Square sejak 25 Januari 2011 dan berhasil menumbangkannya pada 12 Februari 2011. Meskipun pada 1 Februari, Mubarak menyatakan akan menggelar pemilu presiden pada bulan September. Ia pun menjanjikan amandemen konstitusi tetapi para demonstran menekannya untuk mundur secepatnya. Pada 10 Februari beredar rumor bahwa Mubarak akan mundur. Puncaknya, Wakil Presiden Omar Suleiman mengumumkan mundurnya Mubarak melalui televisi nasional Mesir dan menyerahkan kekuasaannya kepada militer. Revolusi Libya Revolusi yang terjadi di Libya merupakan bentuk protes masyarakat terhadap rezim Moammar Khadafy yang telah berkuasa sebanyak lima dekade, padahal kondisi rakyat telah terdesak dalam ekonomi. Selain itu lamanya menjabat ternyata tidak memberikan bukti perubahan yang signifikan dalam meningkatkan perekonomian rakyat. Adanya keinginan rakyat agar bangsa bisa bangkit adalah dengan pemimpin baru yang diharapkan mampu mengentaskan rakyat Libya dari tekanan ekonomi. Protes terhadap rezim Khadafy mulai terjadi sejak Februari 2011 dan berdampak terjadi unjuk rasa rakyat besar-besaran. Berbagai statemen agar Khadafy mengundurkan diri juga meramaikan suasana perpolitikan di negara tersebut. Namun dengan menghalalkan berbagai cara, Khadafy berusaha memperta-hankan kekuasaannya. Akhirnya dengan menyewa 25.000 tentara bayaran, Khadafy berusaha memadamkan perlawanan rakyat yang terjadi di negerinya sendiri dengan upah 300 – 2.000 dollar per hari. Bahkan diberitakan berdasarkan data dari Liga HAM Libya, jumlah korban tewas di Libya hingga 4 Maret 2011 telah mencapai 6.000 orang dan akan terus bertambah. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan warga asing dan lokal akhirnya banyak yang mengungsi ke Mesir. Bom-bom pasukan Khadafy juga ikut mengacaukan kilang minyak dan kota Brega yang merupakan tempat petempuran kedua kubu untuk berebut depot dan instalasi minyak di kota pelabuhan utama untuk ekspor minyak di Libya. Moammar Khadafy menegaskan bahwa di balik pemberontakan rakyatnya ada profokasi dari Barat yang bertujuan menguasai minyak Libya. Hal ini dia pertegas dengan masuknya Barat ke Libya dengan alasan misi kemanusiaan walau sudah ditolak oleh Liga Arab. Isu Proyek Timur Tengah Baru (New Middle East) oleh Barat Peristiwa-peristiwa konflik di negara-negara kawasan Timur Tengah diisukan sebagai proyek Timur Tengah Baru. Sebagaimana diberitakan media luar negeri proyek tersebut adalah proyek Barat yang diaplikasikan terhadap negara-negara di Timur Tengah. Proyek Timur Tengah Baru tersebut dimulai dari Irak, lalu ke Lebanon, kemudian hingga Afrika dan Timur Tengah. Istilah Timur Tengah Baru ini pertama kali dimunculkan pada tanggal 21 Juli 2006 oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat itu, Condoleezza Rice, pada jumpa pers di Tel Aviv, Israel dalam perkataannya “Hal yang kita lihat di Timur Tengah adalah rasa sakit yang sedang tumbuh menjelang kelahiran sebuah Timur Tengah Baru, Apa pun yang kita lakukan, kita harus yakin bahwa kita sedang mendorong kemajuan ke arah Timur Tengah Baru, tidak kembali kepada pola yang lama.” Campur tangan Barat semakin tampak dari perkembangan pasca tumbangnya rezim-rezim itu. Sebagaimana yang terjadi di Mesir pasca Mubarak mundur, nama yang mengemuka ke permukaan sebagai pengganti adalah Omar Suleiman dan El-Baradei. Nama pertama adalah tangan kanan Mubarak dalam intelegen serta pernah dilatih khusus oleh CIA. Adapun El-Baradei adalah kepala badan PBB dan bekerja di badan nuklir dunia, IAEA-lembaga internasional yang notabene banyak dimanfaatkan oleh negara-negara barat. Tragisnya, pasca revolusi, militer Mesir -meski tampak berusaha mengadopsi kepentingan rakyat- justru mengambil kebijakan untuk melarang demonstrasi lagi. Dampak terhadap dunia Melihat kondisi di Libya dunia tidak diam begitu saja. Berbagai reaksi muncul baik yang pro maupun kontra. Konflik-konlik yang terjadi saat ini juga mempengaruhi produksi dan ekspor Minyak bumi dari Libya. Kondisi produksi dan ekspor minyak yang semakin berkurang ini berdampak pada harga minyak hingga 116 dollar per barel. Kenaikan ini mendekati level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Hal itu juga mempengaruhi harga pangan di beberapa negara berkembang karena berkaitan dengan aspek produksi pangan. Hal lain yang menjadi dampak krisis minyak di Libya adalah kekhawatiran investor global terhadap kondisi perekonomian di negara-negara berkembang sehingga akan menarik dana mereka. Berbagai reaksi dari dunia bermunculan. China meminta dunia menghormati integritas wilayah Libya sesuai kata juru bicara Kemenlu China, Jiang Yu. Tekanan-tekanan internasional masih sebatas pembekuan aset-aset Libya di luar negeri. Tekanan lain adalah ancaman untuk mengusut kejahatan masa lalu Khadafy dan keluarga. Selanjutnya Khadafy juga akan dituduh dengan pelanggaran hak asasi manusia di Libya. Sedangkan Presiden Venezuela, Hugo Chavez akan membentuk blok pelerai atau Komite Perdamaian untuk menengahi konflik di Libya. Hikmah yang bisa diambil Sumber daya alam yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat akan mengakibatkan kesejahteraan rakyat kurang maksimal. Bahkan kondisi bangsa menjadi kian terpuruk. Saat masyarakat telah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya maka yang akan disalahkan adalah pemerintah. Sehingga perlu adanya optimalisasi sumber daya alam bagi kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Kapitalisme yang diterapkan di negeri-negeri muslim hanya memperkaya para pemodal, yang untuk kasus di Timur Tengah, para pemodal raksasa itu adalah para penguasa beserta keluarganya. Di sisi lain, gelombang isu yang melahirkan iklim ketidakpastian menuntut perhatian serius dari pihak-pihak yang berkepentingan. Dorongan awalnya bisa jadi adalah murni dari kehendak rakyat. Revolusi di Tunisia untuk menggulingkan Ben Ali konon dipicu oleh seorang pemuda yang bunuh diri sebagai bentuk protes. Gerakan via jejaring sosial menjadikan revolusi Mesir juga dikenal sebagai revolusi 1.0. Namun tanpa konsep, goals, dan social change agent, pergerakan semacam ini akan mudah dikendalikan oleh kekuatan internasional yang berpengaruh dan antek-anteknya di negeri tersebut. Justru di titik inilah titik rawan dari pergolakan Timur Tengah. Perubahan tanpa visi yang jelas tentang sistem masa depan, bisa dibajak oleh siapa saja; oleh rezim lama yang berganti wajah menjadi pendukung rakyat dan terkesan reformis; juga oleh asing. Perubahan sebatas sosok rezim menjadi cara untuk revitalisasi dominasi negara besar dengan mengangkat rezim baru yang tetap dalam kontrol mereka. (ym/fzn) (Sumber : TILAWAH, Edisi 14/Tahun XXI/2011) Share artikel: |












