• wong ikhlas iku ora ngarep-arep opo-opo, nanging gampang oleh opo-opo
Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah
Selasa, 08 November 2011 - 08:34:45 WIB
Diposting oleh : Administrator | Kategori: Silaturahim - Dibaca : 228 kali

Sejarah Pendirian Pondok dan Perkembangannya

Ma'had ini didirikan pada tahun 1981 di Bangil dengan menempati sebuah rumah kontrakan. Dengan penuh ketelatenan dan kesabaran Habib Hasan Baharun mengasuh dan mendidik para santrinya, sehingga dalam waktu yang relatif singkat jumlah santri berkembang dengan pesat berkat mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Selain membina santri putra, pada tahun 1983 pondok ini menerima santri putri yang berjumlah 16 orang yang bertempat di daerah yang sama. Dan pada tahun 1984 lokal pemondokan santri menempati sampai sebanyak 13 rumah kontrakan.

Atas petunjuk Musyrif Ma'had Darullughah Wadda'wah Habib. Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani, pada tahun 1985 Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah dipindah ke Desa Raci.

Kesuksesan Habib Hasan Baharun dalam berdakwah dan membangun Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah tidak lepas dari peran besar  dari seorang wanita sholihah yang sudah terdidik dan terlatih kesabaran, kegigihan serta ketegarannya dalam menghadapi kehidupan oleh ayahandanya Al-Habib Muhammad Al-Hinduan, beliau adalah Syarifah Khodijah binti Muhammad Al-Hinduan, istri tercinta  yang senantiasa dengan penuh ketabahan dan kesabaran mendampingi pahit getirnya perjuangan serta senantiasa memberikan semangat bagi sang suami. Bahkan jiwa besar dan perjuangannya ditunjukkan oleh ustadzah ketika Habib Hasan membutuhkan dana untuk pondok maka ustadzah dengan senang hati menjual seluruh barang-barang berharga dan semua perhiasan yang dimilikinya bahkan yang mengandung kenangan dan sejarah dijualnya pula.

Pada tanggal 23 Mei 1999 M bertepatan tanggal 8 Shafar 1420 H beliau berpulang ke rahmatullah, kemudian estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putra beliau Al-Habib Ali Zainal Abidin bin Hasan Baharun.

Pada tahun 2006 dibuka Pondok Pesantren II Darullughah Wadda'wah yang berlokasi di Desa Pandean Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan yang sekarang ditempati 334 santri putra untuk tingkat i'dadiyah dan kelas I dan II ibtida'iyah.

Pemikiran dan Konsep- konsep Pendidikan Habib Hasan Baharun

Secara singkat akan kami uraikan beberapa pemikiran dan konsep-konsep pendidikan yang dapat kami tangkap dari ungkapan dan ide-ide  serta realitas yang beliau jalankan dalam mengelola lembaga pendidikan dan pondok pesantren, yaitu apabila seorang kiai sudah mendirikan pondok maka dia harus rela meninggalkan semua aktivitas dan hobinya yang ada di luar pondok  yang dapat mengganggu konsentrasinya dalam membina santrinya. Beliau mengibaratkan seorang pengasuh pondok pesantren sebagai induk ayam yang sedang mengerami telur, maka apabila sering meninggalkan sarangnya kemungkinan besar telur tesebut tidak jadi menetas, dan telur tersebut akan busuk.

Untuk mendirikan pondok pesantren harus dijiwai dengan ikhlas dan guru-guru yang akan mengajar harus diseleksi tingkat keikhlasannya, sehingga tidak akan menularkan kepada santrinya ilmu yang tidak ikhlas dan seterusnya. “Dan apabila diniati dengan hati yang ikhlas maka pondok pesantren tidak usah khawatir akan datangnya murid, sebab Allah akan memproklamasikan/ mengumumkan kepada para malaikat untuk menanamkan kemantapan pada kaum muslimin.” Begitu jawaban Habib Hasan ketika ditanya sistem promosi apa yang dipakai pondok sehingga sangat cepat perkembangan santrinya dan berasal dari berbagai propinsi bahkan dari beberapa negara tetangga.

Sasaran yang diutamakan dan mendapat perhatian khusus dari beliau adalah pertama putra para kyai dan habaib khususnya yang mempunyai pondok pesantren dan majlis ta'lim, hal ini dilakukan karena mereka sudah jelas ditunggu oleh umat dan sebagai proses pengkaderan agar mereka bisa menjadi penerus orang tua mereka memimpin pondok pesantren.

Kedua adalah putra-putra daerah yang disana jarang ada ulama/kiai/ustadz, sehingga diharapkan nanti pulang kembali bisa untuk berdakwah menyebarkan Islam dan merintis lembaga pendidikan/majlis ta'lim.

Ketiga adalah putra orang kaya, yang dengan masuknya putra mereka di pondok dengan beberapa pertimbangan diantaranya diharapkan perhatiannya terhadap Islam/pondok pesantren lebih besar dan sebagai wasilah masuknya dakwah kepada orang tua mereka, menyelamatkan harta mereka serta sebagai bentuk subsidi silang terhadap santri yang tidak mampu.

Dan terakhir adalah putra-putri dari orang-orang yang pernah berjasa dalam perintisan pondok. Namun sebaliknya, dalam mendidik putra-putranya beliau sangat disiplin dan memperlakukan putra-putranya seperti santri-santri pada umumnya. Putra-putra beliau disuruh tinggal di asrama/kamar santri, peraturan yang berlaku untuk santri juga diberlakukan untuk putra-putra beliau, seperti piket menyapu, mengepel, membersihkan kamar mandi dan lain sebagainya. Dan apabila ketahuan ada santri memberi hadiah uang atau membantu / menggantikan piketnya maka putra beliau dan santri yang membantu tersebut akan diberikan sanksi. Apabila putra beliau melanggar peraturan pondok akan menerima sanksi 2 kali lipat. Sehingga dengan kedisiplinan, kesederhanaan serta kemandirian yang ditanamkan oleh beliau  alhamdulillah putra-putra beliau berhasil mengikuti jejak beliau menjadi ahli ilmu dan terjun di dunia pendidikan dan dakwah. Bahkan untuk mengikat dan memberikan motivasi, beliau mengatakan kepada putra-putranya bahwa mereka tidak berhak menggunakan fasilitas pondok apabila tidak turut serta membantu pondok.

Perhatian Habib Hasan Baharun terhadap Pengembangan dan Penyebaran Bahasa Arab

Habib Hasan Baharun mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap pengembangan dan pengembangan Bahasa Arab. Selain Beliau banyak mengarang kita-kitab yang berhubungan dengan Bahasa Arab seperti Kamus Bahasa Dunia Al 'Ashriyyah, Muhawarah Jilid I dan II, Qawa'idul I'rab, Kalimatul Asma' Al Yaumiyyah dan Kalimatul Af'al Al Yaumiyyah, 40 Kaidah-kaidah Nahwu (Pengantar Ilmu Nahwu) serta beliau mewajibkan seluruh santri dan para guru untuk senantiasa menggunakan Bahasa Arab.

Disamping mengembangkan Bahasa Arab di pondok pesantrennya sendiri, beliau juga mengajar secara rutin di beberapa pondok pesantren, seperti di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Asembagus Sukorejo Situbondo, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pondok Pesantren Langitan Tuban, dan di beberapa pondok pesantren lainnya mulai dari Banyuwangi sampai ke Jawa Tengah.

Adapun bentuk perhatian beliau terhadap Bahasa Arab :antara lain adalah Beliau sering mengisi seminar-seminar di berbagai perguruan tinggi dan pondok pesantren serta berbagai lembaga pendidikan untuk menjelaskan pentingnya Bahasa Arab. Mengirim beberapa guru dan santri untuk mengajar khusus Bahasa Arab di beberapa lembaga pendidikan Islam dan pondok pesantren.

Menerima  dan mengadakan kursus Bahasa Arab secara gratis di Pondok Pesantren Darullughah yang terbuka untuk umum serta beliau menangani sendiri setiap ada rombongan kursus dari pondok-pondok dan perguruan tinggi. Senantiasa memberikan motivasi kepada para ulama/kyai untuk membiasakan berbahasa Arab. Dan menyarankan agar mewajibkan santrinya berbahasa Arab.

Senantiasa menyuruh guru-guru untuk mengarang hal-hal yang berhubungan dengan bahasa Arab. Mengawasi guru-guru agar menerangkan pelajaran dengan bahasa Arab dan menegurnya apabila diketahui menjelaskan pelajaran di kelas dengan menggunakan bahasa selainnya.

A. PROGRAM PENDIDIKAN MU'ADALAH (KURIKULUM PEMERINTAH)

            Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah yang berada di Desa Raci Kecamatan Bangil ini mendirikan Madrasah Muadalalah (Kurikulum Nasional) merupakan kebulatan tekad untuk mencetak ulama yang intelek dan profesional dalam menjawab berbagai problem global pendidikan saat ini. Sehingga dengan tekad dan semangat tersebut berupaya mewujudkan dengan sistem dan program pendidikan terpadu, berupaya tampil sebagai lembaga pendidikan Islam untuk menciptakan masyarakat ilmiah yang selalu disinari oleh ajaran Islam, sehingga santri keluaran Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah itu memiliki kemantapan aqidah dan kedalaman spiritual, keluhuran akhlaq, keluasan ilmu dan kematangan profesional, dan atau menjadi pemimpin, ulama serta kader muslim yang tangguh berwawasan luas, kritis dan mempunyai kepribadian yang paripurna sehingga Al Habib Hasan bin Ahmad Baharun mewajibkan seluruh santrinya masuk pada sekolah umum (Kurikulum Nasional) yang didirikannya. Sekolah ini terdiri berbagai jenjang pendidikan, yaitu MI, MTs dan MA. Pada semua jenjang pendidikan tersebut kurikulumnya menyesuaikan dengan kurikulum yang ada di MI Negeri, MTs Negeri dan MA Negeri. Begitu juga dengan ijazahnya

2.  Madrasah Tsanawiyah Darullughah Wadda'wah

Madrasah Tsanawiyah ini didirikan pada tanggal 17 Juli 1992 dengan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia Kantor Wilayah Jawa Timur No.: 212.35.14.15.059/1992

Siswanya berasal dari lulusan MI Darullughah Wadda'wah sendiri ditambah dengan siswa MI lulusan dari luar dan siswa yang belum lulus Madrasah Tsanawiyah (Pindahan).

3.  Madrasah Aliyah Darullughah Wadda'wah

Madrasah Aliyah ini didirikan pada tanggal 17 juli 1992 dengan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia Kantor Wilayah Jawa Timur No.: 312.35.14.15.559/1992.

Siswanya berasal dari lulusan MTs. Darullughah Wadda'wah sendiri ditambah dengan siswa MTs lulusan  dari  luar  dan   siswa   yang  belum  lulus. Madrasah Aliyah (Pindahan).

C. PROGRAM PENDIDIKAN TINGGI DAN PASCASARJANA

Untuk menjawab tantangan global, maka pada tahun 1995 didirikan sebuah Perguruan Tinggi Swasta dengan nama STAI Darullughah Wadda'wah, yang menjadi mahasiswa STAI Darullughah Wadda'wah adalah seluruh lulusan MA Darullughah Wadda'wah ditambah dengan lulusan MA/sederajat diluar pondok pesantren yang menetap di pondok pesantren sebagai santri.

Dengan SK Dirjen Binbaga Islam No. E/34/1997STAI Darullughah Wadda'wah ini membuka program Strata Satu (S-1) dan Akta IV Non Kependidikan yang diselenggarakan melalui sistem kredit semester (SKS) yaitu:

·         Jurusan Syari'ah Program Studi Ahwal Al Syakhshiyyah

·         Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam

·         Akta IV Non Kependidikan

STAI Darullughah Wadda'wah diasuh dan dibina oleh tenaga-tenaga Dosen Tetap dan Dosen PTN (IAIN dan Universitas) dengan kualifikasi Guru Besar S-3, S-2 dan S-1 yang memiliki reputasi dan profesional di bidangnya masing-masing terdiri atas alumni luar dan dalam negeri.

Sedang materi-materi khusus yang meliputi mata kuliah bidang Pendidikan Diniyah, Studi Keislaman serta materi-materi lokal lainnya diasuh oleh tenaga pengajar senior Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah, alumni berbagai pondok pesantren dalam dan timur tengah (Makkah, Madinah, Yordan, Mesir dan Yaman).

Visi Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah

Menjadi lembaga pendidikan  Islam/pondok pesantren sebagai pusat pemantapan akidah, pengembangan ilmu, amal dan akhlaq yang mulia dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Menjadi lembaga pendidikan Islam/pondok pesantren yang dibangun atas dasar komitmen yang kokoh dalam upaya mengembangkan kehidupan yang disinari oleh ajaran Islam dengan faham Ahlussunnah Waljamaah.

Menjadi lembaga pendidikan  Islam/pondok pesantren alternatif dalam pembinaan generasi muda dan ummat Islam dengan system pendidikan terpadu.

Misi/Tujuan Pondok Pesantren Darullughah  Wadda'wah

Membina dan mengantarkan generasi muda Islam (santri) memiliki keimanan  yang kuat/tangguh, berilmu tingggi (faqih fiddin) serta berkepribadian yang baik dan mulia (berakhlaqul karimah)

Memberikan keteladanan dalam kehidupan atas dasar nilai Islam dan budaya  luhur bangsa Indonesia.

Membekali santri dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan/teknologi,  dan keterampilan sehingga mampu menghadapi/mengatasi perkembangan global.

Mengantarkan santri/generasi muda Islam menjadi kader-kader da'wah yang  mampu menyelesaikan problematika ummat dan dapat membawa masyarakat sekitarnya ke arah yang lebih baik dan maju.

Mempersiapkan generasi muda Islam (santri) menjadi generasi penerus estafet kepemimpinan ummat dan bangsa yang   berwawasan luas, kritis dan menjadi SDM yang berkualitas.

Tujuan dari segala tujuan adalah semata-mata melaksanakan perintah Allah  SWT dengan senantiasa mengharap hidayah dan ridha-Nya.

[Tulisan diolah dari www.pp-dalwa.org](khf/aku/andi)

(Sumber : TILAWAH, Edisi 14/Tahun XXI/2011)

 


Share artikel: